Seputar Peradilan

AMARAH

DSCN0528

www.pa-manna.go.id | Senin (05/28), tetap dengan semangat Senin dengan rasa Jum’at, personil Pengadilan Agama Manna beserta pimpinannya menghadiri kultum di bulan Ramadhan ini. Bp. Wawan Mulyawan, Lc, yang merupakan salah satu CPNS Calon Hakim yang sedang menjalani habituasi di Pengadilan Agama Manna, bertepatan sekali menjadi pemberi materi (penceramah) pada hari ini. Apa kiranya hal yang disampaikan?

“Janganlah engkau marah..”, adalah kalimat pembuka kuliah 7 menit ini. Beliau menyampaikan bahwa itu adalah kutipan jawaban yang diberikan Rasulullah  ketika ada yang bertanya kepadanya mengenai permintaannya mengenai wasiat. Berikut haditsnya: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah  , ‘Berilah aku wasiat.’ Kemudian Beliau menjawab, ‘Janganlah engkau marah.’ Lelaki itu mengulang – ngulang permintaannya, (namun) Nabi  (selalu) menjawab, ‘Janganlah engkau marah’” (HR. Bukhari). Sebagai manusia, tentunya kita tidak luput dari cela. Bagaimana cara kita menghindarinya, adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan. Amarah, salah satunya. Amarah adalah buah hasil kerja syaitan terhadap bujuk rayunya kepada anak Adam. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan emosi (amarah), banyak berbuah pada tindakan tercela, yang ujungnya seringkali kita sesali. Pengendalian diri dari amarah adalah salah satu wasiat Rasulullah  kepada umatnya.

Bp. Wawan juga menyampaikan kiat – kiat kita dalam menghindari bujuk rayu syaitan. Usaha kita yang pertama adalah ta’wudz (membacakan lafadz, ‘A-’uudzu bil-laahis samii-’il ‘a-lii-mi minas syai-thaa-nir ra-jiim), apabila rasa marah belum reda, dilanjutkan dengan berwudhu. “Pada hakikatnya rasa amarah itu panas membara di dalam diri, maka dipadamkanlah dengan air wudhu..” lanjutnya. Bila amarah tidak cukup dipadamkan dengan 2 langkah di atas, maka akan berlaku diam itu emas. Dengan diamnya orang marah, dapat mencegahnya dari hal – hal yang dapat menyakiti orang lain. “Apabila kemarahan datang di waktu kita berdiri, usaha kita kemudian adalah duduk untuk mengubah suasana hati dan vice versa (sebaliknya)...”. Bp. Wawan memberikan bentuk usaha terakhir kita untuk menahan amarah adalah dengan pergi ke tempat yang kiranya mengalihkan perhatian kemudian dapat meredam dan pada akhirnya menghilangkan kemarahan kita.

“Bulan Ramadhan adalah salah satu sarana kita untuk belajar menahan emosi yang ada dalam diri kita.. Semoga di bulan ini kita diberikan kemampuan untuk meningkatkan kualitas diri di hadapan Nya”.

“Aamiin ya rabbal ‘alamin”, sambut hadirin yang hadir. {RRS-WWN}